Social entrepreneurship (ASGAR =
Asal Garut)
Goris Mustaqim
Rabu 26 Juni 2013
Kang Goris, seorang lulusan Institut Teknologi Bandung, asal
Garut, membagikan cerita tentang kepulangannya ke daerah asalnya setelah lulus
dan membangun usaha yang berbasiskan social
entrepreneurship. Model usaha yang dikembangkan yaitu usaha berbasis
pelayanan masyarakat public, namun mampu menjalankan bisnis yang keuntungannya
bisa membantu menjaga keberlanjutan usaha.
Usahanya diberi nama ASGAR yaitu Asal Garut. Usaha ini menitikberatkan
pada pengembangan domba Garut yang biasa dipelihara sebagai asset atau modal.
Domba ini diklaim sebagai domba terbaik se-internasional. Domba ini tidak akan
disembelih, namun hanya akan dimanfaatkan susunya saja. Setelah usaha domba ini
semakin maju, kang Goris dan teman-teman mulai merambah bidang-bidang lain
untuk digarap di bumi Garut, seperti penanaman seribu pohon dan industri
perumahan.
Pilar utama perkumpulan ASGAR adalah:
1.
Pendidikan
2.
Pemberdayaan anak muda
3.
Pengembangan potensi daerah (contoh akar wangi)
4.
Pemberdayaan masyarakat (micro finance)
Hambatan yang pernah dialami kelompok ASGAR adalah:
1.
Program kerja yang gagal
2.
Sikap masyarakat yang malas
Ketika ditanya oleh peserta, bagimana sebaiknya model
pendidikan yang tepat agar semakin banyak pemuda menjadi wiraswata adalah
pendidikan yang membangun karakter, yang memberikan kebebasan berekspresi,
kebebasan menjadi dirinya sendiri, perbanyak studi banding ke tempat-tempat
maju, dan disiapkan jaringan/ networking.
Kang Goris begitu optimis bahwa Indonesia sekitar 10 tahun
kedepan akan mampu menjadi bangsa yang besar karena saat ini angka pemuda
Indonesia yang besar yaitu 36.4% dari total penduduk Indonesia.
Kesimpulan yang diberikan oleh Kang Goris agar pemuda
Indonesia bisa sukses menjadi seorang wiraswasta adalah ide kreatif, kerja
keras, dan networking.
No comments:
Post a Comment