Selamat Siang, Risa!
Disutradarai oleh Ine Febriyanti.
Meskipun tumbuh sebagai seorang yang “jauh” dari dunia
politik, Ine Febriyanti mengiyakan tawaran untuk memproduksi film dengan tema
nasionalisme. Ketika proses penggalian ide, Ine terinspirasi pengalaman pribadi
dirinya sendiri. Sang Ibu sering menceritakan kejujuran sang Ayah kepada Ine
kecil sebelum tidur. “Selamat siang, Risa!” merupakan sebuah film singkat
berdurasi 17 menit yang mengedepankan integritas seseorang untuk menolak
korupsi.
Berlatar belakang setting cerita Indonesia di tahun 1974,
film ini mengangkat kesulitan ekonomi yang dilanda Indonesia karena tingginya
harga beras. Kebijakan pemerintah menurunkan harga beras agar masyarakat miskin
terbantu, merisaukan distributor beras karena akan mengalami kerugian. Banyak
distributor yang “menimbun” beras dalam gudang-gudang. Ketika persediaan beras
di pasar sedikit atau menipis, harga pun kembali naik.
Di dalam cerita, seorang pegawai rendah yang dipercaya
atasan untuk mengelola gudang kantor pun didatangi distributor. Sang
distributor menawarkan sejumlah uang agar bisa menyimpan beras di gudang.
Namun, sang pegawai dengan penuh kepercayaan diri dan integritas menolak
tawaran tersebut di tengah himpitan ekonomi keluarganya. Setelah sang anak
tumbuh dewasa, ia pun mengikuti jejak sang Ayah untuk menolak korupsi.
Kesimpulan yang bisa kita petik dari cerita ini adalah:
1.
Mungkin kita berada dalam posisi sebagai orang
tidak mampu secara financial atau tidak memiliki kapasitas intelektual yang tinggi,
namun dengan integritas tinggi kita tidak akan melakukan hal-hal salah yang
akan disesali di kemudian hari.
2.
Kejujuran dan integritas tidak semata-mata lahir
dengan sendirinya, namun tumbuh dan dapat diciptakan, mulai dari pendidikan
keluarga.
No comments:
Post a Comment